Friday, October 11, 2019

Diplomasi Ekonomi Tidak Boleh Disederhanakan

Forum ini juga menyimpulkan pengumuman rencana bisnis dari 11 perusahaan Indonesia, dengan nilai perdagangan potensial $ 1,3 miliar. Pemerintah Indonesia menargetkan penyelesaian perjanjian perdagangan preferensial (PTA) dengan beberapa negara Afrika tahun ini untuk merampingkan arus barang dan jasa dari kedua belah pihak. Negosiasi pada PTA antara Indonesia dan Mozambik, yang berlangsung selama dua putaran sejak April 2018, ditargetkan selesai pada pertengahan tahun depan.

Kami berharap negosiasi putaran ketiga akan diadakan pada bulan Januari atau Februari tahun depan. Semoga negosiasi akan selesai pada bulan Maret, Direktur Kementerian Luar Negeri untuk Urusan Afrika Daniel Tumpal Simanjuntak menyatakan. Proses diskusi PTA antara kedua negara dimulai pada tahun 2017, ketika Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengunjungi Mozambik.

Proposal untuk membuat perjanjian perdagangan kembali disampaikan oleh Presiden Joko Widodo ketika dia bertemu dengan Presiden Mozambik Filipe Nyusi di sela-sela KTT IORA di Jakarta tahun lalu. Hanya selama implementasi IAF di Bali yang Mozambik menyatakan keinginannya untuk memulai negosiasi PTA.

Jika perjanjian ini dibuat, itu akan melengkapi upaya diplomatik kami di Afrika dalam hal membuka akses pasar dan investasi ke benua itu, kata Simanjuntak. Melalui PTA, saat ini masih dibahas, kedua negara akan mengatasi hambatan tarif, mulai dari 25 persen untuk produk jadi dan 10 persen untuk produk setengah jadi.

Indonesia mengusulkan sekitar 100 produk untuk mendapatkan tarif nol, termasuk minyak kelapa sawit dan tekstil. Mozambik akan menjadi pusat strategis bagi produk kami untuk memasuki pasar Afrika, kata Simanjuntak. Ada contoh banyak di halaman jasa seo murah bergaransi halaman 1 Google. Selain Mozambik, Indonesia sedang dalam proses membahas PTA dengan Tunisia. Namun, ia percaya bahwa diplomasi ekonomi tidak boleh disederhanakan hanya untuk kerja sama perdagangan.

Diplomasi ekonomi juga harus dapat menghasilkan sumber pendanaan baru dan investasi keluar, kata Simanjuntak. Beberapa perjanjian bisnis di IAF dicapai oleh Indonesia Eximbank dengan Bank Ekspor-Impor Afrika, serta Standard Chartered Bank dan Commerzbank. Ini menunjukkan bahwa kerja sama antara lembaga keuangan Indonesia dan mitra mereka dapat mulai dibangun.

Ini berarti jika ada proyek, pembiayaan tidak hanya berasal dari anggaran negara. Kami membuka jalan untuk mendapatkan pendanaan dari dana asing, Simanjuntak menjelaskan. Selain itu, beberapa BUMN mulai menjelajah di Afrika, seperti PT Wijaya Karya (WIKA), yang menandatangani kontrak untuk mengerjakan proyek renovasi Istana Kepresidenan Niger, dengan nilai $ 26,7 juta.

PT TIMAH juga berencana untuk membangun smelter di Nigeria melalui proyek senilai $ 25,9 juta dengan bekerja sama dengan perusahaan lokal Topwide Ventures. Setelah kami mendapat proyek untuk merenovasi Istana Kepresidenan Niger, beberapa negara Afrika lainnya tertarik untuk bekerja sama dengan Indonesia. Klik saja rental mobil bali lepas kunci murah meriah. Kami melihat ini sebagai peluang positif untuk mengerjakan proyek infrastruktur lainnya di Afrika, kata Simanjuntak.

Senegal, Pantai Gading, dan Tanzania, khususnya Zanzibar, adalah negara-negara di Afrika Sub-Sahara yang bersedia membangun kerja sama infrastruktur dengan Indonesia. Untuk memperkuat kerja sama infrastruktur dengan negara-negara Afrika, Indonesia akan mengadakan Dialog Infrastruktur Indonesia-Afrika pada 20-21 Agustus 2019, di Bali.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.